28 May 2017

( Request List ) Kilas Balik 30 Film Horror Terbaik era 2000-2010

Kalian mungkin bertanya-tanya ada momen apa ini kok HSD tiba-tiba mosting list ginian haha. Ya, list seperti ini lebih tepat diposting di akhir pergantian dekade, atau di awal-awal dekade baru. Tapi, bodo amat deh, blog ini masih bernama Horrorsekarepdewek ( semau-mau yang punya hehe ) selain itu, ini juga dalam rangka memenuhi request dari pembaca. Yes, kalian juga boleh minta request review/list-rekomendasi ( gue akan berusaha memenuhinya ) hanya saja waktu pemuatannya ngga pake deadline ya, kecuali kalian ngasih/ngirim 'sogokan' ( seperti pe-request kita kali ini hehe ) berupa film-film, makanan daerah masing-masing, komik, atau buku ( bergenre apa saja ), nah kalo gitu baru deh gue akan mempercepat pemuatannya haha. 

Btw, tapi gue kira akan mudah menyusun list ini, pada kenyataannya gue tetep harus melakukan riset sana-sini, menonton ulang untuk memastikan, bahkan mendownload ulang karena ternyata filmnya udah ga ada di harddisk. Ini membuat akhirnya list rampung dalam waktu yang cukup lama hehe.  

Langsung ke tema utama kita kali ini yaitu dekade 2000an, Ini sebuah dekade yang tercatat memiliki beberapa momen penting ( di dunia film horor ), seperti kebangkitan horror-supranatural Asia ( dipimpin oleh Sadako ) yang kemudian memicu banyak remake versi Hollywoodnya, lalu dari Eropa juga muncul serangan Euro-Extreme yang cukup mengguncang dengan Perancis berada di garda terdepan, dari pusat perfilman dunia sendiri ( Hollywood ), orang-orang jahat berada di era emasnya dalam memburu, membunuh dan menyiksa manusia lainnya ( slasher/torture-porn ), sementara itu, mayat-mayat hidup ( zombies! ) dibangkitkan dari kubur masa lalu, sebagian yang lain mengalami modifikasi genetika modern ( mampu berlari cepat ) dengan berbagai genrenya ( komedi, action, drama ). Meanwhile in South Korea, para pendendam kesumatnya ( Korean-vengeance-crime-thriller ) tampil menggebrak serta mampu menciptakan gelombang baru yang berbeda dari invasi hantu berambut panjang pimpinan Sadako. Selain itu, jangan lupain tren first-person view/handheld camera/mockumentary yang memuncak di dekade itu. Bagaimana dengan horror-lokal kita? kaya yang kita tau, negeri kita saat itu sedang diperkosa setan yang doyan keramas dan goyang pinggul di air terjun, serangan hantu2 model begini sangat masif sampe penonton akhirnya tiba di titik jenuh dan mulai masuklah entri-entri yang cukup segar. 

List ini mengambil materi dari peristiwa-peristiwa penting diatas. 

Buat kalian horror-enthusiast kelas berat, list yang ada disini tentunya merupakan judul-judul yang sangat familiar. Versi DVD nya saat itu sangat mudah ditemui di lapak-lapak, ulasannya mudah ditemukan dimana-mana, stasiun TV udah berulang kali muter filmnya, bahkan beberapa judul udah pernah direview secara penuh di blog ini haha. Pendeknya, ini emang judul-judul dari arus-utama ( mainstream ) sinema horror dekade itu yang gue asumsiin kalian udah menonton filmnya. Untuk itu gue menghapus 'rekomendasi' dari judul list dan menggantinya dengan 'kilas balik'. Soalnya, gimana mungkin gue merekomendasikan sesuatu yang kalian pasti udah nonton hehe. Kemudian gue memilih untuk merewatch semua filmnya, dan mereview ulang  ( dengan singkat ) film-film ini dengan perspektif yang lebih segar. So, ini adalah sebuah throwback/kilas balik. 

Harap diperhatikan juga, mengingat film-film yang ada disini datang dari bermacam genre dan gaya, gue memutuskan untuk tidak meranking filmnya, maksudnya, gue jelas nggak bisa mengatakan kalo A Tale of Two Sisters berada diperingkat yang lebih baik dari Feast, keduanya adalah film yang berbeda ( yang bahagia di genrenya masing-masing ) dan rasanya nggak adil untuk mengatakan yang satu lebih baik dari yang lain. So, ini bukan ranking ya, list disusun berdasarkan tahun perilisan, dari mulai yang terlama sampe terbaru. 

Sori juga buat yang film favoritnya ( terutama dari genre asian-supranatural ) nggak ditemuin disini hehe list ini dibuat berdasarkan selera-subyektif setelah melakukan banyak pemilahan, rewatch dan menimbang-nimbang. Kalian masih bisa nemuin film favorit kalian di list-list lain yang bertebaran diblog-blog sebelah ( dan berbahagialah disana ), atau misalnya masih kurang puas juga, JUST WRITE YOUR OWN FUCKING LIST, GODDAMMIT! 

Terakhir, berikut adalah honorable mention ( yang pastinya akan masuk kalo listnya sampe 50 ) hehe :  Battle Royale, Frontiere's, Shaun of The Dead, Zombieland, The Orphanage, Dog Soldiers, Cold Prey, Dead Snow, 28 Day & Weeks later, Dumplings, Calvaire, The Hills Have Eyes, Final Destination 1, Skeleton Key, Silent Hill, Noroi, Ringu dan The Ring


Ok, folks..cut the crap. Let's get it on!


Frailty ( 2001 ) 

Diilhami kejadian nyata, Frailty memiliki tema yang akan relevan sampai kapan saja ( terutama di Indonesia ) tentang seorang ayah yang tiba-tiba merasa mendapat ilham dari tuhan untuk menghukum ( membunuhi ) orang-orang berdosa, ceritanya kemudian berkembang menjadi semakin disturbing ketika sang ayah memaksa dua puteranya untuk membantu menunaikan 'misi suci' itu. Nah, bukankah kita sering membaca berita tentang orang-orang yang melakukan hal-hal buruk demi alasan keimanan?  Thought-provoking! Selain ceritanya yang solid, film yang merupakan directorial-debut dari (alm ) Bill Paxton ( sekaligus pemeran utama ) ini juga didukung penampilan impresif duo aktor ciliknya. Namun kekuatan terbesarnya jelas terletak pada alur flashback yang berhasil memberikan kejutan besar diakhir cerita. Yup, super twist! Sangat direkomendasikan untuk penikmat psikologikal-thriller gelap dengan kejutan dan belokan tajam di ceritanya, sementara untuk para gorehound..hmm, mengingat semua kekerasannya tampil off-screen, silahkan untuk nge-skip yang satu ini. 


Pulse/kairo ( 2001 ) 

Dibuat di era awal internet, Kiyoshi Kurosawa udah sigap manfaatin tema itu ( internet ) untuk diintegrasikan kedalam cerita filmnya. Pulse juga berbicara tentang kematian dan kesepian yang gue bahkan ga berani memikirkannya karena terlalu menakutkan. Hantu dalam film ini tidak tampil seperti tipikal hantu Jepang lainnya ( yang malah membuat gue ketawa pas ngeliatnya ), tapi lebih ke penampakan sosok-sosok blur dengan gerakan tidak wajar yang menebarkan aura unsettling nan creepy layaknya video penampakan disturbing-aneh yang biasa gue temuin di deep web.  Meski alurnya terasa lambat, Kiyoshi Kurosawa berhasil memaksimalkan atmospir eerienya untuk membuat Pulse tampil mencengkeram. Ini beneran haunting dan merupakan salah satu dari segelintir film yang berhasil membuat bulu kuduk gue meremang saat menontonnya.



The Devil's Backbone  ( 2001 ) 

Nggak pernah tertarik film ini sampe salah satu temen gue ngelabelin ini sebagai film horor terbaik versinya. Gue coba nonton, dan hmm..mungkin bukan yang terbaik, kalo salah satu yang terbaik, iya. The Devil's Backbone berkisah tentang anak-anak di sebuah panti asuhan terpencil saat perang sipil Spanyol meletus di tahun 1939, di setting itulah kemudian Guillermo Del Toro memulai dongeng hantunya. The Devil's Backbone seperti film-film Del Toro lainnya yang senang bermain atmosfir dan elemen gotik. Tensinya cenderung lambat namun dibayar dengan production-value yang solid di semua lini. Dan oiya satu hal yang gue pelajari dalam film ini, hantu boleh bergentayangan kesana kemari, namun ancaman terbesar selalu datang dari mereka yang masih hidup. 


The Others  ( 2001 )  

Sejujurnya, tema supranatural dan rumah berhantu ( baik produk Hollywood atau Asia ) selalu membuat gue skeptis. Bukan apa-apa, tema ini terlalu membosankan. Meski ada juga yang sangat bagus seperti Kwaidan ( 1964 ) atau Under The Shadow  (2016 ), tapi gue lebih sering mengalami kekecewaan saat nonton film bergenre ini. Nah, salah satu horor-supranatural yang tidak berakhir mengecewakan adalah garapan Alejandro Amenabar ini. Berlatar usai perang dunia di tahun 1945, The Others bercerita tentang Grace ( Nicole Kidman ) yang tinggal bersama dua anaknya ( yang menderita alergi terhadap sinar matrahari ) di sebuah mansion tua. Kaya banyak film bertema serupa, The Others memiliki klise-klise macam pintu terbuka sendiri, suara-suara aneh, dllsb. Untungnya, latar jadul dan elemen gotik yang dipilih Amenabar berhasil menguatkan atmosfer dark and creepy yang membuat gue sabar menanti. Lalu ketika film gue pikir udah hampir mencapai konklusinya ( dan gue udah bersiap kecewa lagi ), tiba-tiba aja gue dikejutkan bagian endingnya yang bagaikan sebuah gol injury time nan spectacularly-stunning di sebuah pertandingan bola yang cukup membosankan. Sadarlah gue kalo Amenabar sudah merancang cerita film ini sedemikian cermat. Deliciously-twisty!

A Tale of Two Sisters ( 2003 ) 

Plot film forror-psikologikal besutan sutradara Kim Jee-Woon ini berpusat pada kisah Su-Mi, seorang gadis pra-remaja yang baru aja keluar dari rumah sakit mental dan kembali tinggal bersama adik tersayang, ayah, dan ibu tirinya.  Namun, belum lama kembali kerumah, Su-Mi mulai mengalami mimpi buruk dan gangguan supranatural. Satu masalah lain yang dialami Su-Mi dirumah adalah hubungannya dengan sang ibu tiri ( Eun-Joo ) yang tak akur. Seiring berjalannya cerita, perang dingin dua-bersaudara dengan ibu tirinya ini semakin meruncing dan berujung pada terungkapnya sebuah fakta yang sangat mengejutkan. 

Seperti kebanyakan film horor Asia, film berjalan sangat lambat dan gue sempat merasa skeptis ketika bagian pertama film seperti mengarah ke model asian-supranatural-horor lengkap dengan hantu oriental berambut panjangnya. Namun kemudian cerita semakin misterius, dan film mulai menebar potongan puzzle yang didukung sinematografi cantik, editing matang, dan penampilan duo artis ciliknya yang tampil memukau.  Pada awal third-act terungkaplah sebuah twist besar, abis itu film berjalan dengan gaya chronological-reverse ( yang cukup membingungkan, tapi untungnya gue bisa ngerti hehe )..dan mendekati akhir ohh..sodara-sodara mungkin ini satunya-satunya film horor dimana gue harus mengusap mata karena merasa ada genangan air disana. Dasar Korea! haha. Kim Jee-Woon jelas baru aja membuat karya sinema yang berhasil menggabungkan horor supranatural, misteri, thriller psikologis, dan drama peremuk-hati dengan cara stylish yang tak mampu disamai versi remake Hollywoodnya, The Uninvited ( 2009 ).


Identity ( 2003 ) 

Pada kesempatan pertama nonton film ini bertahun-tahun silam, gue sempat mengalami kebingungan dengan ceritanya. Pun ketika Identity berkali-kali diputer di televisi. Sampe akhirnya kemaren ( demi menyusun list ini ) gue mencoba rewatch film besutan James Mangold yang merupakan adaptasi bebas dari novel And There Were None nya Agatha Christie ini, dan ternyata....gue tetep aja bingung.  Haha kidding. Yah gue emang mengira ini cuma thriller misteri pembunuhan generik dimana sekumpulan orang yang terjebak di sebuah motel ( karena badai ) satu persatu tewas mengenaskan oleh seorang pembunuh yang kemungkinan besar ada diantara mereka. Lalu kita pun mulai menebak-nebak siapa pembunuhnya. Nah, bukankah sebuah plot 'who's the killer?' yang udah sering kita liat berulang kali?. Tapi tunggulah sampe bagian third-act nya ketika semua terungkap, kemungkinan besar kalian akan salah menebak! meski idenya cukup absurd ( terutama buat gue yang kurang mengerti ilmu psikologi ), ini tetep aja mindblowing. Maka ketika film berakhir ( dan akhirnya gue ngerti ceritanya ), tanpa ragu gue ngelabelin Identity sebagai thriller-psikologikal yang highly original one.


Dead End ( 2003 )

Ini sebuah film kecil yang cukup underrated. Bercerita tentang perjalanan malam natal sebuah keluarga yang tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk tanpa akhir ketika mobil mereka nyampe disebuah ruas jalan sepi penuh misteri. Naskah Dead End cukup rapi  dan berhasil memadukan humor gelap, horor dan misteri yang dibalut atmosfir eerie yang meremangkan bulu roma. Gore nya minimal tapi efektif , sementara twist di bagian finalnya mungkin terasa 'been there, done that', tapi tidak mengurangi keasikan film produksi Perancis  garapan Jean-Baptiste Andrea yang diperkuat Lin Shaye ini. I love this little gem. Sebuah horor sederhana yang bisa menjadi contoh dari apa yang bisa kita buat dengan budget kecil, cast minimal dan lokasi terbatas. 



Haute Tension ( 2004 ) 

Seperti judulnya, Haute Tension ( High Tension ) sudah menggeber tensi tingginya sejak menit 25 ketika diceritain seorang sopir truk gendut-jelek tiba-tiba menginvasi sebuah rumah terpencil, kemudian ngebantai penghuninya dengan brutal  tanpa motivasi yang jelas. Sejak saat itu, tensi film nggak pernah mengendur sedikitpun sampe rolling credit. Merupakan film yang melambungkan nama Alexandre Aja ( sutradara ), Haute Tension menampilkan banyak sekali adegan violence ekstrim dari mulai kepala digusruk lemari, eksplisit slit throat, sampe chainsaw bloodbath yang hanya bisa disamai oleh adegan Mia menggergaji setan di remake Evil Dead. No silly character, no joke, no dark humor, ini beneran sajian kekerasan nonstop tanpa kompromi yang membuat gue bahkan tidak sempat untuk mengeluh apa sebenarnya yang sedang terjadi dilayar. Titik lemah film ini menurut gue ada pada twist-endingnya yang terkesan curang dan tidak sinkron dengan apa yang udah ditunjukin di paruh pertama dan keduanya. Entah kenapa, Aja memilih cara seperti itu, padahal misalnya beliau mau dikiiit aja mengolah ( dan ngedit ) beberapa sekuens di bagian paruh awalnya agar fit ama ide twist yang ditawarkan, tentunya sajian keseluruhannya akan terasa lebih solid. Tapi, kaya yang udah dibilang, semua violence dan ketegangan nonstopnya berhasil membuat adrenalin gue mengalir cepat sepanjang film, itu kompensasi yang cukup untuk membuat gue ikhlas memaafkan tricky-twistnya hehe. Tanpa ragu, Haute Tension adalah salah satu judul esensial dari gelombang french-extremity yang meledak di dekade itu. 



Dawn of the Dead ( 2004 ) 

Dawn of the Dead dibuka ama 10 menit opening sekuens ( yang sama epiknya ama opening sekuens 28 Weeks Later ( 2007 ) ) ketika wabah zombie tiba-tiba merebak di kota Milwaukee dan salah satu main-character kita, Ana ( Sarah Polley ) harus pontang-panting nyelametin diri dari keluarga dan tetangganya yang tiba-tiba berubah menjadi zombie,  Abis itu kita akan langsung dibawa ke plot-utama nya, yaitu tentang sekelompok survivor zombie-apokalips ( termasuk Ana ) yang mempertahankan diri di sebuah mall. 

Secara mengejutkan, ini adalah sebuah worthy-remake dari seorang sutradara debutan ( Zack Snyder ) yang tetep ngasih tribut buat versi klasiknya ( 3 aktor dari versi orinya menjadi cameo disini ) sekaligus memolesnya dengan sentuhan sendiri. Apa itu? yeah zombie lari. Bener, ngga kaya mayat idup di versi George Romero ( 1978 ) yang lambat, zombie versi Snyder ini mampu berlari dengan cepat yang mana ini membuat film juga berjalan dengan fast-paced dan tensi tinggi ( layaknya film aksi ). Berita buruknya, keputusan itu juga membuat film kehilangan suspense dan atmosfir creepynya. Tapi overall, ini tetep hiburan enteng yang berenergi, colorful, fun ( terutama jika dibandingkan 28 Days Later yang terasa muram dan filosofis ) dan merupakan remake-zombie terbaik di dekade itu. Kalo remake terbaik sepanjang masa buat gue sih masih tetep Night of the Living Dead nya Tom Savini ( 1990 ). Oiya terakhir, ini bukan film pertama yang nampilin zombie lari ( dan bukan pula 28 Days Later ), Return of Living Dead udah lebih dulu ngelakuin itu di tahun 1985!



Saw ( 2004 ) 

Gue bukan penggemar franchise Saw dan nggak pernah antusias kala mendengar sekuel terbarunya sedang dibuat.  Tapi film pertamanya adalah penanda penting dari dekade 2000an yang banyak menginspirasi para copycat, mencetuskan term 'torture porn', dan bahkan melahirkan ikon baru dunia horor bernama 'Jigsaw Killer'. Ya, sutradara James Wan seperti mendapat jackpot saat directorial debutnya yang semula direncanakan straight-to-dvd ini akhirnya dirilis worldwide usai mendapat sambutan positif di festival Sundance. Kaya yang kita tau, Saw kemudian sukses secara komersial. Bercerita tentang dua orang asing yang terbangun dalam keadaan terantai di sebuah ruangan, film kemudian mulai menebarkan misteri dan teka-teki nya. Meski gripping dan memiliki banyak jebakan sophisticated, tapi menurut gue, Saw memiliki beberapa kelemahan seperti  : plothole disana sini ( termasuk di twistnya ), cut-to-cut editing yang kurang rapi dan membuat flow nya terasa jumpy, serta ide tentang ngasih pelajaran orang yang nyia-nyiain idup dengan naro mereka di sebuah permainan maut yang terlalu mengada-ada ( and they take it way too serious! ). Tapi meski begitu, gue udah banyak ngeliat yang jauh lebih buruk dari ini. Terakhir, kaya yang udah gue bilang diatas, ini film penting, gue masih merekomendasikannya, terutama kalo kalian sedang membuat skripsi berjudul " Pengaruh Saw dan gelombang torture-porn di era 2000an dalam kehidupan bernegara". #apeu



The Descent ( 2005 ) 

Mengambil setting didalam sebuah gua, The Descent udah punya keuntungan yang sangat mendukung Neil Marshall ( sutradara ) dalam usahanya nge-build up teror : kegelapan dan ruang sempit. Namun, itu aja belum cukup, maka skripnya juga naro makhluk penghuni gua ( Crawlers ) yang siap memangsa all-female-casts kita. Tiga hal itu ( kegelapan, ruang sempit dan monster ) kemudian menjadi elemen penting The Descent saat menyajikan horror-survival-claustrophobicnya. Buat para gorehound, darah dan gore yang ditunjukin emang nggak pernah nyampe level ekstrim, namun itu udah cukup untuk menambah sense of fear, panic, and terror yang hendak dicapai.  Satu weak point yang gue catet adalah ketika skripnya nyoba ngembangin cerita dengan masukin konflik ( yang terasa dipaksakan ) pada dua karakter utama kita, bukan apa-apa, konflik itu ternyata berawal dari sebuah kesalahpahaman bodoh huft. Diluar itu, The Descent tetep merupakan sajian yang berhasil ngasih sensasi claustrophobic-intense dari dalam kegelapan gua bawah tanah yang dihuni makhluk-makhluk karnivora. Oiya, sekuelnya nggak istimewa, mending kalian cek karya Neil Marshall sebelum ini, Dog Soldiers ( 2002 ).



Feast ( 2005 ) 

Memiliki plot tipis ( setipis harapan gue buat jadi kaya raya dalam waktu dekat ) tentang sekumpulan orang di sebuah bar terpencil yang diserang oleh kawanan monster ganas, John Gulager tanpa banyak basa-basi langsung menggelar sajian fun gore-fest nya. Haha beneran, yang ini bagian awal introduksi para karakternya saja sudah terasa komikal dan menyenangkan dengan menyertakan 'Fun Fact' dan 'Life Expectancy' yang nunjukin kalo semua calon daging segar kita ini cukup retard buat dimakan monster. Satu-satunya karakter pria kekar bershotgun yang diperkenalkan sebagai 'hero', secara mengejutkan langsung tewas dicaplok monster tepat sesaat setelah dia ngucapain oneliner badass ( diiringi dramatic backsound ) " im the guy that's gonna save your ass ". Hahaha hilariouuus! Kalian yang pengen horornya penuh cipratan darah, organ tubuh termutilasi, cairan-cairan menjijikan, aksi konyol, hilarious gore ( satu yang paling bikin ngakak adalah penis monster yang kejepit pintu haha ), practical effect, f-words, hot chicks  and boobs jelas kudu ngecek yang satu ini. Sedikit keluhan adalah ketika kamera terlalu sering ngambil gambar secara close-up, untungnya, itu sama sekali nggak ngurangin keasikan film ini hehe. Oiya, silakan cek juga bagian ke 2 ama ke 3 nya!


Slither ( 2006 ) 

Apa yang asik dari film directorial-debut James Gunn ( sutradara ) yang juga merupakan lulusan Troma Studios ini adalah ketika dia memutuskan untuk membuat banyak sekali homage dari film-film sci-fi monster kelas B favoritnya. Dari mulai The Blob, Invasion of The Body Snatchers, Shivers, From Beyond, Society sampe The Fly. So, ini semangat bermain-main tanpa pretensi  seperti yang juga udah pernah dilakukan Fred Dekker dalam Night of The Creeps. Ceritanya sendiri tentang teror yang melanda kota kecil setelah sebuah meteorit berisi parasit jatuh disitu. Haha sangat cheesy, tapi bodo amat film model ginian nggak pernah gagal dalam menghibur gue.  Komikal, pekat ama dark-humour, menjijikan ( namun bikin ngakak ), dan setia pada practical effect ( penggunaan CGI disini ada dalam batas yang bisa dimaklumi ). Pendeknya, Sangat sangat menyenangkaaaan! Penggemar monster berlendir dan slimy-crawling-creatures pasti nya bakalan bersorak saat menontonnya. Sayangnya film ginian jarang dibuat ye huhu Gue sih tau alesannya,  jelas karena film seperti ini sering flop di box office ( termasuk film ini ). Yah, dunia memang tidak adil.



Behind The Mask : The Rise of Leslie Vernon ( 2006 ) 

Bercerita tentang kru film dokumenter yang mendapat akses eksklusif untuk meliput aksi seorang 'serial killer enthusiast' dalam menyiapkan pembantaiannya, sutradara Scott Glosserman berhasil bersenang senang dengan elemen dan klise-klise dalam genre slasher untuk diolah menjadi sajian meta yang sangat cerdas dan segar. Paruh pertama dan keduanya bergaya mockumentary/handheld camera sebelum akhirnya di bagian third-act berubah sepenuhnya menjadi slasher konvensional kaya yang kita kenal. Darkly funny dan hilarious! Ini film yang sangat inovatif, memiliki skrip solid dan twist pintar. Tanpa ragu, The Rise of Leslie Vernon adalah yang terbaik jika dibanding film-film lain yang memiliki ide similiar seperti Tucker & Dale Vs Evil atau The Final Girls. Jangan lupain penampilan cameo Robert Englund dan oiya, sekuelnya konon udah siap dan akan rilis dalam waktu dekat. Yeay!


Inside / A l'interieur ( 2007 ) 

Ide awal Inside bermula dari Julien Maury dan Alexandre Bustillo ( duo sutradara ) yang ingin membuat sebuah film slasher dimana villainnya adalah seorang perempuan. Menurut mereka, cerita tentang psikopat cowo yg membunuhi perempuan sudah terlalu klise di subgenre tersebut. Jadi mereka mulai mengolah ide itu dan berfikir, kiranya motivasi apa yg membuat seorang perempuan memburu perempuan lainnya? Hasil dari brainstorming itu adalah cerita dalam film ini, yaitu ( bisa gue tulis dengan singkat ) : tentang  perempuan gila yang menginvasi rumah seorang perempuan hamil demi ngambil janinnya. Haha simpel, ya.  Nah hebatnya, dengan ide cerita linear-sederhana ( dan setting ) minimalis seperti itu, duo Maury-Bustillo berhasil maksimalin semua potensi dan resourcenya untuk diolah menjadi sebuah sajian dengan daya gedor maksimum yang segera membuat Inside bertengger di jajaran teratas film-film 'french-extremity' terbaik dekade itu. Menit-menit pertamanya berjalan cukup lambat, minim dialog dan terasa sunyi. Tapi tunggu sampe menit ke 30an ketika La Femme ( Beatrice Dalle yang mukanya udah serem dari sononya ) mulai masuk ke kamar protagonis kita dan maen-maenin gunting diperut hamilnya. Setelah itu bersiaplah dengan gelaran kebrutalan level hardcore tanpa henti dari mulai tusuk menusuk, bacok membacok, darah moncrot, sampe kepala meledak yang ditampilin tanpa ragu di layar. Dan gue bahkan belum cerita tentang  sebuah sekuens 'keterlaluan' di bagian menjelang akhir nya haha. Sementara itu, tensi ketatnya didukung ama scoring bizarre ( lebih mirip noise-distorsi ) yang berhasil menambah teror dan aura 'sakit' film ini. Singkatnya, ini adalah sebuah slasher-home invasion yang akan membuat para gorehound terpuaskan. Minimalis namun sangat efektif dan segera menjadi contoh gimana sebuah slasher seharusnya dibuat. P.S : tidak direkomendasikan untuk ditonton perempuan hamil!

BERSAMBUNG KE PART 2

No comments:

Post a Comment